Dirgova - PROLOG


Cerita ini hanya fiktif.

Apabila ada kesamaan tempat, alur cerita, atau nama tokoh, itu hanya kebetulan semata.


***  


  “Wah, 001? Apa lagi yang ingin kautanyakan? Bukankah beberapa menit lalu kita baru saja bertemu?”

            Gadis itu, yang disebut ‘001’, hanya diam di tempat. Matanya menatap sosok di atas kursi putar itu tajam.

            “Apakah benar tidak ada kesalahan pada misi yang Anda berikan di tim 009?” tanyanya kemudian, dengan suara pelan. Sosok itu lalu terdiam, kemudian tersenyum tipis.

            “Kenapa kau menanyakan hal itu? Itu tidak ada sangkut-pautnya dengan misimu."

            Gadis itu lalu diam. Tatapannya tidak berubah. “Saya menanyakan ini bukan sebagai seorang number, tapi sebagai ketua unit mereka. Saya mungkin tidak punya hak untuk tahu detil misi, tapi saya berhak untuk memastikan keselamatan anggota saya.”

            Sosok itu lalu mengangkat sebelah alis. Menyeringai. “Apa kau benar-benar seseorang yang peduli pada anggotamu, heh?”

            Gadis itu diam, mengatupkan rahang. Tangannya lalu mengepal.

            Sosok itu lalu duduk lebih tegak. Tersenyum menatap gadis di depannya.

            “Aku baru pertama kali melihatmu mempunyai sisi kepedulian, Gadis Kecil.” Sosok itu lalu bertumpu dengan siku pada permukaan meja. “Aku pastikan lagi, apa kau benar-benar seseorang yang peduli pada anggotamu, heh?”

            Gadis itu hanya diam. Tidak berkutik. Tangannya mengepal semakin erat hingga buku jarinya memutih.

            Sosok itu lalu menatapnya dengan seringai tipis. Terkekeh pelan, dia kemudian menyandarkan punggung ke kursi.

            “Sudahlah, 001. Tidak usah emosi begitu. Toh, sejak awal aku sudah melakukan ‘kesalahan’ saat memberi kalian misi,” ucap sosok itu dengan tersenyum. “Hanya kau yang baru menyadarinya sekarang, karena kau baru akan memedulikan anggotamu. Padahal, hei, kalau kau menyadarinya dari awal, bukankah tidak akan ada number yang terbunuh karenamu?

***

“Hah!”

            Gadis itu tersentak bangun, mengangkat kepalanya dari atas meja. Mengatur napas yang memburu, dia lalu mengerjap mengusir buram. Menatap lamat selembar kertas di atas meja. Terdiam.

            Lembar kertas ujian mapel Sejarah.

            Astaga… apa dia tertidur saat ujian?

            Dia menatap ke sekitar. Kelas sudah separuh sepi, hanya tinggal dia dan lima orang lagi di dalam kelas. Pengawas ujian masih santai duduk di depan, asyik meng-scroll medsosnya. Semua sibuk dengan urusan masing-masing, sama sekali tidak peduli.

            Melirik arlojinya, gadis itu menghembuskan napas pelan.

            Sepuluh menit lagi waktu ujian habis.

            Aduh… bisa-bisanya dia tertidur dan bermimpi seperti itu di situasi seperti ini??

            Dengan gusar, gadis itu langsung menyelesaikan 5 soal uraian yang belum dikerjakannya. Menulis jawaban dengan lancar tanpa ragu, dia lalu beranjak bangkit dari kursi dan menyerahkan lembar jawaban kepada pengawas. Membuat tanda tangan di lembar kehadiran, dia lalu melangkah keluar.

            Koridor ramai oleh murid-murid yang selesai ujian. Beberapa sibuk mengobrol, ada pula yang menanyakan tadi menjawab apa. Ada yang berencana ke kantin setelah bel istirahat berbunyi, ada pula yang bermain ke lapangan. Gadis itu menatap lamat ke sekitar, menyibak poni di pelipis.

            “Woi, Aksa, kok lo lama banget di dalem?”

            Gadis itu menoleh, langkahnya terhenti. Tersenyum tipis melihat Niara, temannya yang duduk mencangkung sambil asyik menyesap susu kotak. Mendekat, ikut duduk mencangkung.

            “Ketiduran.”

            “Wah gilee, lo ngerjain ujian di mimpi, gitu?”

            “Ngerjain ujian apanya? Yang ada gue kena interogasi iya.”

            Niara tertawa, lalu menatap Aksa prihatin. “Gue nggak paham deh, lo tuh sebetulnya kenapa, sih? Selalu mimpiin hal yang ngeri-ngeri. Padahal buat gue, mimpi tuh sesuatu yang asik, bukan ngeri kayak gitu.”

            “Buat gue itu sih bukan mimpi. Tapi cuma halu lo doang.” Aksa menjawab enteng, membuat Niara tersedak. Gadis berkuncir kuda itu lalu memukul pundak Aksa sebal.

            “Mimpi emang halu, bodoh. Selalu enggak jelas. Kadang malah aneh dan nggak masuk akal. Tapi lo apa? Lo selalu mimpi diinterogasi orang enggak jelas.” Niara lalu meremas susu kotaknya yang sudah kosong. “Jujur, gue yang sebetulnya enggak peduli sama latar belakang orang malah jadi kepo buat nyari tau tentang lo, Sa. Masa lalu lo kayak apa, sih? Lo punya trauma? Atau dendam masa lalu yang belum lo bales?”

            Aksa hanya tertawa kecil, menggeleng pelan. Tidak menjawab.

            Sebetulnya dia sama sekali tak ingin mengingat kejadian lama itu lagi. Tapi alam bawah sadarnya seolah menuntutnya untuk tidak membuang masa lalu itu jauh-jauh. Seolah-olah menyuruhnya untuk kembali. Seolah-olah menyuruhnya untuk menyelesaikan hal-hal yang telah lama ia tinggalkan dan tak ia tuntaskan sejak dulu. Seolah menahan langkahnya.

            Seolah tidak membiarkannya lari begitu saja.

            Dan mungkin ke depannya … hidupnya akan sama seperti dulu.



Comments

Popular posts from this blog

Dirgova - You are My Hell and My Heaven too

Dirgova - Chapter 01