Dirgova - Chapter 01

 -DIRGOVA-

You are My Hell and My Heaven too

Chapter 01


Jangan lupa komen dan share ya :D Have fun and happy reading!


***

Entah petir dari mana yang menyambar sampai kabar pagi itu benar-benar mengejutkan seantero sekolah.

Sebenarnya pagi itu adalah pagi Senin yang cerah seperti biasa. Sama sekali tak ada bedanya. Hanya saja, ini sudah seminggu sejak ujian tengah semester dilaksanakan. Biasanya akan ada pengumuman ranking dan nilai per angkatan, dan biasanya hasilnya pasti mudah ditebak.

Dirgantara Eril, si ketua OSIS-lah yang akan menjadi ranking pertama. Lalu disusul oleh Narendra Yasunaga, si wakil ketua OSIS yang menjadi ranking kedua. Ranking ketiga dipegang oleh Nezza Adelia yang menjadi center tim basket putri, lalu Kinayyara, lalu—

Yah, cukup. Setidaknya itu daftar teratas yang terpenting.

Nama-nama yang baru saja disebut itu adalah nama dari sebagian murid-murid brilian di sekolah ini. Murid-murid cemerlang yang menjadikan sekolah ini sebagai sekolah dengan akreditasi terbaik. Sekolah yang terkenal dengan prestasi gemilangnya. Dan mereka selalu memenuhi jajaran teratas dari ranking angkatan.

Jadi, sebenarnya, pengumuman ranking angkatan itu sudah cukup membosankan. Toh jejeran teratasnya itu-itu saja. Tak pernah berubah.

Meski nyatanya, hari ini semua jajaran teratas itu berubah dengan variabel yang baru saja muncul.

“Ranking pertamanya ada dua orang dengan nilai rata-rata yang sama?” Eril yang mendengar kabar dari Naren mengerutkan kening, terlihat tidak percaya.

“Iya. Mengejutkan, bukan? Aku sendiri syok saat mengetahuinya.” Naren terkekeh sambil menarik kursi ke belakang dan duduk di atasnya. “Dan kau tahu, Ril? Yang menyaingimu itu adalah anak baru itu.”

Anak baru?

“Oh, anak pindahan dari SMAN 1 itu, ya? Bukannya rumornya dia keluar dari sekolah itu karena sering melanggar peraturan dan nilainya anjlok semua?”

Naren mengedikan bahu, santai meneguk air dalam botol. “Yah, mana aku tahu, Ril. Bisa aja dia emang bobrok saat di SMAN 1, tapi pas masuk ke sini dia mau bertaubat jadi murid teladan? Entahlah aku juga nggak paham dengan pola pikir anak baru itu. Yang pasti dia membuat rekor karena telah menyamai rankingmu yang bahkan aku pun enggak bisa melakukannya.”

Eril terdiam, lamat memandangi mejanya.

Benar. Mungkin saja, pada dasarnya anak baru itu pintar, tapi pemalas. Sehingga dia banyak melanggar peraturan di sekolahnya dulu. Dan mungkin itu semua berubah saat dia masuk ke sekolah ini. Dia bertekad jadi lebih rajin, supaya tidak mengecewakan orangtuanya yang sudah bersusah-payah mencoba memasukkannya ke sekolah ini. Dia bertekad menjadi murid teladan agar tidak dikeluarkan dari sekolah.

Menarik. Jika dia seberhasil ini, bukankah itu berarti anak itu sangat gigih dalam merubah dirinya?

“Siapa nama anak baru itu?” tanya Eril kemudian. Naren menoleh.

“Kalau tidak salah namanya ‘Rigel Angkasa’. Anak 11 IPS-4.” Lelaki dengan kacamata bergagang tipis itu menatap Eril sembari mengangkat sebelah alis. “Kenapa tiba-tiba nanya?”

Eril hanya tersenyum simpul. “Bukan apa-apa. Aku hanya tertarik. Sepertinya anak itu sangat unik sampai bisa melampauiku.”

Naren terdiam sejenak, menatap Eril lamat. Lantas terkekeh.

“Hahah. Baiklah, Ril. Aku paham maksudmu. Nanti akan kucarikan biodata anak itu. Oke?”

Eril hanya tertawa kecil sembari menepuk pundak Naren, menatapnya penuh penghargaan. “Kau benar-benar wakil yang peka dan bisa diandalkan. Aku bangga padamu.”

Naren hanya tertawa, memperbaiki letak kacamatanya.

***

Bel istirahat berbunyi.

Eril melangkah di koridor seorang diri, bersiul sambil tersenyum ramah membalas sapaan murid-murid lain padanya. Wajar, di sekolah ini, dia sangat terkenal. Sebagai seorang Eril yang tampan, murah senyum, baik hati, tinggi, murid teladan, ketua OSIS, jenius, tegas tapi lembut, tidak mudah marah, tidak merokok, tidak pernah menjaili cewek, dan—

Cukup. Daftar kesempurnaannya terlalu panjang.

Intinya, dia adalah potret laki-laki idaman di sekolah ini. Tidak ada cewek yang tidak menyukainya. Semuanya pasti tergila-gila dengannya. Dia bahkan berada di top 1 daftar cowok-cowok idaman yang rankingnya dibuat oleh anak-anak perempuan di sana, dari kelas 10 sampai kelas 12. Kakak kelasnya yang laki-laki sering iri karena pacar mereka selalu menyuruh mereka untuk bertingkah seperti Eril. Tapi meski begitu, tidak ada murid laki-laki yang membenci Eril, bahkan mereka sangat menyayangi dan mengidolakan Eril.

Jadi, wajar dia seterkenal itu, bukan?

Dia lalu masuk ke kantin. Kali ini dia istirahat sendirian tanpa ditemani Naren. Sobatnya yang berkacamata itu sepertinya ada urusan di ruang OSIS, jadi dia pergi sendirian. Dia lalu memesan bakso kuah untuk makan istirahat siang kali ini.

Dia baru saja hendak mencari tempat duduk saat tiba-tiba seseorang merangkulnya dari belakang.

“Oi, Ril! Lo udah liat daftar mading, belom?”

Eril terperanjat, nyaris terloncat. Dia menoleh kepada orang yang merangkulnya. “Dilan! Gue kaget, tau!” ujarnya dengan sedikit sebal.

Dilan terkekeh. “Sori, sori. Gue lagi mode hyper soalnya.”

“Kenapa?” tanya Eril melirik raut wajahnya. “Habis nontonin Nezza, ya?”

Wajah Dilan memerah samar, dia memukul pundak Eril. “Kok lo tau aja sih, Ril? Gue emang habis nontonin Nezza, sih. Dia tadi lagi makan siomay sama teman-temannya. Lucu banget gila~”

Eril hanya memutar mata saat Dilan bersikap seperti itu. Nezza adalah adik perempuan Naren, usianya terpisah 2 tahun dengan mereka. Tapi karena Nezza adalah anak dari jalur akselerasi, dia bisa lompat kelas dan seangkatan dengan mereka. Dilan naksir dengannya karena Nezza adalah gadis yang cantik, jenius dan ber-attitude. Dia sangat pintar untuk ukuran anak yang termuda di angkatan, dan dia juga merupakan center dari tim basket putri. Pertama kali Dilan naksir dengannya saat lomba basket di festival sekolah. Nezza turut serta dalam lomba itu (karena dia juga seorang center yang dipilih klub basket putri), dan di sana dia bermain dengan sangat keren.

“Udah ah, jangan bucin gitu. Kalau #Milea tau gimana? Nggak lucu, lho~ mereka pasti nggak rela kalau tiba-tiba lo naksir orang.”

Dilan terkesiap. “Iya sih. Kasihan juga #Milea … tapi gimana ya? Dia itu lucu banget … saking lucunya gue jadi hilang image ya ampun.”

Eril sekali lagi memutar mata. Selain menjadi seorang sekretaris di OSIS, Dilan juga seorang idol muda yang tengah naik daun di kehidupan sosialnya. Awalnya dia bergabung dengan sebuah grup boyband, namun pada babak final audisinya terjadi masalah besar yang menyebabkan penentuan debut itu ditunda. Setelah itu anggota grupnya memutuskan bubar, dan akhirnya Dilan memutuskan untuk memulai karirnya sebagai idol solo di bawah naungan agensi grup boyband-nya dulu, agensi SY Entertainment. Dan sejak itu, dia berhasil menciptakan banyak lagu, dan nyaris tak ada orang yang tak mengenal Dilan. Lagunya tersebar di mana-mana, bahkan menjadi original soundtrack untuk beberapa film drama. Dia juga sering diundang oleh beberapa stasiun talkshow, dan pernah menerima beberapa penghargaan. Jangan lupakan juga fans-nya yang begitu banyak. Mereka dikenal sebagai fandom #Milea oleh orang-orang.

“Terserah lo deh. Mau bucin silakan, mau fokus ke karir juga silakan.” Eril lalu menyeret Dilan duduk di salah satu kursi agar tak menjadi perhatian. “Bara mana?”

Dilan nyengir. “Oh, Bara? Dia lagi ke atap sekolah.”

“Ngapain? Mau bunuh diri?”

“Enggak. Dia lagi ngerokok.”

Eril menepuk jidat. Dari semua daftar cowok-cowok idaman yang dibuat anak-anak perempuan sekolah ini, Bara juga termasuk ke dalamnya, dan Eril sangat tidak habis pikir … bagaimana mungkin anak yang slengean, bodo amat, dan suka melanggar peraturan secara diam-diam itu menjadi cowok idaman anak sekolah—dan jangan lupakan kalau dia adalah ketua dari divisi keamanan OSIS (jangan tanya kenapa dia terpilih menjadi ketua divisi itu, Eril pun bingung).

“Dia enggak mau ke kantin? Kok malah ngerokok?” tanya Eril. Dilan mengangkat bahu.

“Dia bilang, dia lagi galau abis ngeliat daftar ranking di mading. Makanya dia mau melamun ngeliat pemandangan sambil ngerokok di atap.”

Argh … ada-ada saja alasan anak itu. Eril menggeleng-gelengkan kepalanya. Dari dulu dia selalu sulit untuk mengendalikan Bara—lebih tepatnya mengendalikan sifat bodo amat-nya. Anak itu selalu melakukan hal sesukanya, tidak peduli dengan yang ada di sekitarnya.

“Kalau lo ketemu dia lagi, tolong bilangin kalau jatah ngerokoknya hari ini cuma dua kali. Oke, Lan?” Eril berucap sambil tersenyum pada kang bakso yang mengantar pesanannya. Dilan hanya mengangguk, membuka satu bungkus kerupuk dan mengunyahnya.

Itu sudah biasa. Dalam geng mereka yang beranggotakan Eril-Naren-Dilan-Bara, Eril sering bersikap keibuan. Dia selalu menasehati dan lebih bersikap dewasa dari yang lain. Tidak ada yang bisa membantahnya dan yang lain pasti menurutinya. Dan soal mengingatkan jatah merokok Bara, itu juga sudah biasa.

Eril hanya mengizinkan Bara merokok tiga kali sehari. Itu pun tidak setiap hari, Eril mengizinkannya kadang-kadang. Untuk orang yang dulunya candu merokok, Eril berusaha menghilangkan kecanduan itu dari Bara.

Demi bestie ni bos. Biar paru-parunya terjaga.

“Btw, lo belum jawab pertanyaan gue, lho, Ril.” Dilan berucap tiba-tiba, asyik mencolek kuah bakso milik Eril dengan kerupuknya. Eril yang sedang mengunyah mengangkat alis.

Pertanyaan apa?

“Lo udah liat daftar ranking di mading atau belom?” tanya Dilan kemudian. “Kayaknya lo santai amat. Padahal udah ada yang nyamain lo, tuh?”

Eril terkekeh setelah menelan baksonya. “Ya pasti gue kepo, Lan. Tapi we must be calm, gitu lho. Masa’ heboh.”

Dilan mendelik, menatap Eril jijik. Gosah sok bahasa Inggris bisa ngga sih?

“Emangnya lo ada informasi buat gue? Tentang anak yang nyamain gue itu?” tanya Eril sambil kembali mengunyah bakso. Dilan nyengir, mengangguk.

“Gue langsung nyari tau tentang dia begitu tau lo dan dia se-ranking.”

Eril menyeringai lebar. Ini yang paling dia banggakan dari anak-anak kesayangannya, mereka semua sangat peka tentang apa yang Eril inginkan. Dia lalu terkekeh. “Oh ya? Oke, nanti malam datang ke rumah gue buat makan malam, ya.”

Deal. Ini pembayaran yang adil.” Dilan tertawa.

“Jadi, apa yang lo tau?”

“Yah, pokoknya nama anak itu ‘Rigel Angkasa’. Anak-anak selalu manggil dia ‘Aksa’. Dari yang gue amati, anak itu kayaknya tertutup, soalnya cuma sedikit anak-anak yang bisa ngejawab pertanyaan gue tentang dia.” Dilan menjawab sambil membuka lagi bungkus kerupuk. “Terus … tadi gue sempat ngeliat dia pas anak-anak tunjukin. Rambutnya pendek kayak cowok, roknya di bawah lutut—”

“Hah, dia cewek?” Eril tersedak, menatap Dilan tidak percaya.

“Ya iyalah, makanya dia pake rok, Eril-hyung.”

“Ta-tapi, namanya kayak nama cowok … ‘Rigel Angkasa’. Panggilannya juga, ‘Aksa’. Itu kan nama cowok, Lan.” Eril masih tidak percaya. Dilan lalu mengedikan bahu.

“Mana aku tahu. Tanyalah sama ibunya, ibunya yang ngasih nama—eh, itu orangnya, Ril!”

Eril spontan menolehkan kepala ke arah yang ditunjuk Dilan. Tidak jauh dari tempat duduk mereka berdua, seorang siswi membawa nampan mangkuk mi ayamnya dengan tenang. Wajahnya datar, sama sekali tidak berekspresi. Seperti yang Dilan bilang, roknya panjang di bawah lutut, nyaris mendekati betis. Rambutnya pendek, mirip seperti potongan rambut laki-laki. Eril melongo saat melihatnya.

“Hey, jangan mangap.” Dilan mengingatkan.

“Woi, kok bisa dia keliatan cantik dan tampan di saat yang bersamaan?!” bisik Eril, masih terkejut. Ini pemandangan baru untuknya.

“Anugrah Tuhan, Ril. Meski gue bertanya-tanya, kenapa anak secantik dia motong rambutnya sependek itu.”

Mata Eril terus mengikuti ke mana gadis bernama Aksa itu berjalan. Dia benar-benar penasaran kini. Untuk seseorang yang hidupnya dikelilingi para pengagum fanatik, dia benar-benar tertarik dengan Aksa yang pembawaannya begitu tenang dan datar. Gadis itu terlihat benar-benar sendirian di tengah keramaian, tak peduli dengan hiruk-pikuk di sekitarnya.

Bagaimana mungkin gadis seperti dia … keluar dari SMAN 1 karena kebobrokannya?

Dilan tersenyum melihat ekspresi Eril yang terperangah. Untuk pertama kalinya dia melihat sahabatnya setertarik itu dengan perempuan. Selama ini Eril selalu menutup diri dan menjaga jarak, tapi untuk gadis ini … sepertinya Eril akan benar-benar tertarik.

“Woi, Lan … dia bestie-an sama sepupu gue.” Eril menepuk jidat.

Hah?

Dilan melongok ke arah di mana Aksa berdiri. Gadis itu tersenyum tipis pada seorang gadis berwajah babyface yang dikenali sebagai Ailin, yakni sepupu Eril. Mereka terlihat berbicara sejenak saat kemudian seorang gadis dengan rambut diikat ponytail bergaya tomboy berdiri. Mereka terlihat berdebat sejenak, saat tiba-tiba Aksa menaruh nampan yang ia bawa di atas meja, lalu menyingkap seragamnya, membuka ikat pinggang dan … meloloskan roknya.

“Woi, apa-apaan dia buka rok di depan umum?!” Eril dan Dilan terkejut bukan kepalang.

Beberapa orang di kantin turut menoleh ke meja di mana Aksa berdiri. Tapi gadis itu tidak peduli, dia melepas roknya. Ternyata dia memakai celana pendek selutut di dalam rok. Dia dengan wajah bodo amat lalu mengelap kursi dengan roknya.

“Nggak bisa ini, Lan. Gue mesti ke sana.”

Dilan terkejut saat Eril beranjak berdiri. “Woi, Ril, jangan buru-buru … Aksa emang gitu. Anak-anak bilang dia suka nyentrik dan enggak ketebak. Biarin aja.”

“Nggak apa-apa. Anggap aja aku mau ketemu Ailin.”

Dilan hanya mampu menepuk jidat. Eril memang begitu. Jika sudah tertarik, dia pasti akan melakukan hal bodoh. Gue malah khawatir kalau dia jadi ikutan nyentrik dan bertingkah bodoh kayak Aksa nantinya. Pikirnya sambil ‘terpaksa’ mengikuti langkah Eril dari belakang.

Mereka lalu menghampiri meja di mana Ailin, Niara dan Aksa berada. Eril mendekati Ailin dengan hati kebat-kebit. Eh, mau bilang apa, ya? Matanya masih melirik Aksa yang sibuk mengelap kursi. Sepertinya ada tumpahan di kursi itu, tapi Aksa memilih mengelapnya dengan roknya.

“A-anu … Ailin.” Dia berusaha menormalkan raut wajah, mencolek bahu Ailin yang sedang duduk.

Ailin menoleh. “Eh, Eril? Kenapa kemari?” tanyanya dengan senyum.

Dia menggeleng sejenak. “Bu-bukan apa-apa. Eh, nanti sore kamu mau jemput Dibel, kan?” tanyanya. Dibel adalah keponakan Ailin yang umurnya baru 6 tahun. Ailin punya seorang abang yang sudah menikah. “A-aku mau titip jemput Ezi, boleh? So-soalnya nanti ada les.” Dia meminta tolong pada Ailin tapi sudut matanya tak lepas dari Aksa.

“Oh, boleh …” Ailin hanya mengiyakan, dia justru menatap Eril aneh. “Kok nggak bilang di chat aja? Tumben nyamperin?”

“Eh, eh … tadi aku ngeliat kamu di sini, jadi sekalian aja … Juga, aku mau nanya.” Dia menelan ludah. “Itu teman kamu, kan? Kenapa dia buka rok depan umum?”

“Memangnya kenapa? Ada masalah?”

Itu bukan jawaban Ailin. Itu jawaban Niara. Cewek tomboy yang slengean itu duduk di depan Ailin sambil menatap Eril sedikit julid. “Lo mau nyeret dia ke OSIS?”

Dilan segera menengahi sebelum Eril diserang oleh mulut pedas Niara. “Enggak, Eril enggak mau nyeret dia, kok. Eril cuma nanya, kenapa buka rok di depan umum begitu. Meskipun pakai celana pendek, sama aja, kan—”

Niara menatap Dilan tajam. “Lo kenapa ikut—”

“Udah, enggak usah nyari ribut, Ra.” Suara yang tenang itu seperti menghentikan waktu. Eril tertegun sambil menatapnya membeku. Aksa, gadis itu menyela ucapan Niara dengan tenang—lebih tepatnya, dingin. Dia duduk dengan santai di atas kursi dan melipat roknya. “Gue bisa jelasin, kok. Di sini tadi ada tumpahan.”

“Tumpahan apa sampai lo mesti ngelap pake rok lo?” tanya Dilan menaikkan alis. Aksa baru saja hendak menjawab, namun Niara sudah ngegas duluan.

“Cairan merah. Ada komplotan cewek-cewek sok kece yang iri-dengki-hasad-benci banget sama si Aksa, dan sering banget nge-bully dia. Ini bully-an yang keberapa pun gue udah lupa. Mereka sengaja numpahin cairan merah di sini karena ini satu-satunya kursi kosong yang tersisa di kantin, dan mereka tahu Aksa pasti duduk di sini. Mereka sengaja numpahin cairan itu biar rok Aksa basah seolah dia lagi bocor menstruasi, ngerti gak lo?!”

“Udah, Ra, udah.” Ailin dan Aksa serempak berusaha menghentikan. Sementara, Dilan dan Eril tertegun mendengar jawaban Niara barusan.

Bully? Aksa di-bully?

“Kamu … di-bully?” Eril menatap Aksa tak percaya.

“Ya, dan lo baru tau—”

“Udah, Ra. Kalau aku bilang udah, harusnya lo diem.” Aksa memotong ucapan Niara, menatap tajam ke arah gadis itu. Niara terkesiap sejenak, lalu mengalah dengan wajah sebal.

“Argh. Padahal gue pengen laporin geng meresahkan itu ke ketos demi lo, Sa. Tega lo nyuruh gue diem.”

Eril memerhatikan interaksi itu dengan dahi terlipat. Dia masih belum bisa mencerna semuanya. “Tu-tunggu, maaf menyela. Bisa nggak, jelasin lagi? Aku belum paham duduk perkaranya, makanya aku nanya …”

Dilan dan Niara spontan mendelik ke arah Eril yang aksennya berubah dari gue-lo jadi aku­-kamu.

“Ini masalah biasa, kok. Mereka pengen ngusilin gue.” Aksa menjawab santai, sama sekali tak peduli meski Eril merubah aksennya. Dia menatap Eril datar. “Mereka pengen rok gue basah, tapi gimana ya … caranya salah. Masa’ cairannya ditumpahin di kursi. Gue jadi tau, dong. Tapi gue baik, jadi nurutin aja apa maunya mereka, makanya gue lepasin rok buat ngelap cairannya. Sekarang rok gue udah basah, nih, harusnya udah puas.”

Tertegun sejenak, Eril dan Dilan bersitatap.

Dia sedang jujur atau sedang berbicara sarkas?

Ailin tertawa garing, lalu menatap Eril canggung. “Maafin dia, ya, Ril. Dia emang rada sarkas, tapi itu jawaban jujur. Dia emang di-bully—”

“Itu bukan bully, Lin. Itu ajakan biar gue mau jadi boneka mereka. Masalahnya gue terlalu peka untuk jadi boneka—”

“I-intinya itu, deh, Ril, nggak usah pedulikan dia.” Ailin spontan memotong ucapan Aksa, sebelum anak itu kembali berucap ngelantur.

Eril hanya diam, memandangi Aksa lamat. Dari ujung kepala hingga kaki. Gadis ini … di-bully?

Garis wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia korban bully. Dia justru terlihat … dingin dan mengintimidasi. Lebih cocok kalau disebut … dia seorang pem-bully.

“Namamu siapa?” Eril berucap pelan, matanya tak berkedip. Aksa mendongak menatap Eril, tersenyum kecil.

“Lo udah tahu, kan? Seharusnya enggak usah bertanya lagi.”

Eril diam. “Aku hanya ingin kita berkenalan.” Dia lalu mengulurkan jabat tangan. “Namaku Dirgantara Eril, panggil aku Eril. Aku ketua OSIS dan juga sepupu Ailin. Aku harap kamu—”

Aku harap kamu enggak ngulurin tangan kayak gitu.” Aksa tersenyum tipis, berucap menyambung ucapan Eril.

Eril tertegun. Uluran tanganku ditolak?

“Aku enggak suka kena masalah sepele. Karena itu aku hanya menurut.” Aksa terkekeh pelan, kini aksennya berubah. Dia tertawa sinis—meski sebenarnya itu terdengar seperti tawa rendah. “Kalau kau mengulurkan tangan seperti ini, anak-anak menyebalkan itu akan semakin ingin menjailiku. Lebih baik kau tak mengulurkan tanganmu.”

“Aku bisa mengurus mereka. Aku ingin berkenalan denganmu justru untuk menyelesaikan mereka. Kalau kau sudah berteman denganku, kau bisa aman di sekolah ini—”

“Tapi apa itu menjamin keamananmu berteman denganku?”

Hening sejenak. Eril, Dilan, juga Niara dan Ailin, sama-sama tertegun. Mereka memandang Aksa membeku.

Menjamin keamananmu?

Aksa terkekeh pelan. “Sori, kayaknya gue ngelantur.” Dia lalu melambaikan tangan. “Yah, pokoknya intinya … lo jangan mikir keamanan gue aja, tapi lo mikir keamanan lo juga. Kehidupan sekolah, ataupun sosial … lo mesti mikir juga tentang konsekuensi pertemanan. Meski gue aman berteman sama lo, belum tentu lo aman berteman sama gue. Lo harus inget itu.”

Sejenak terdiam, suasana hening. Dilan mengernyitkan keningnya tak mengerti. Niara dan Ailin bersitatap. Aksa santai menyuap mi ayamnya, tak peduli dengan Eril yang membeku.

Meski gue aman berteman sama lo, belum tentu lo aman berteman sama gue.



Comments

Popular posts from this blog

Dirgova - You are My Hell and My Heaven too

Dirgova - PROLOG